Waspadai Krisis Global Tahap II
Banyak yang memprediksi tahun 2010 merupakan tahun pemulihan krisis
ekonomi global. Namun tak sedikit pula yang masih memasang sikap waspada
bahkan meramalkan kedatangan krisis lanjutan alias krisis global tahap
dua.
Sebelum masuk lebih jauh, mari mundur sedikit untuk
mengingat-ingat kondisi yang terjadi pada krisis 2007-2008 silam. Adalah
produk inovatif bernama Subprime Mortgage yang menjadi
penyebab utamanya.
Subprime merupakan kredit pemilikan
rumah (KPR) berisiko tinggi yang ditawarkan dengan opsi menarik,
setidaknya terlihat seperti itu. Dalam setahun pertama, debitur Subprime
tidak dikenakan bunga. Bunga baru dikenakan setelah setahun pertama.
Produk
ini merupakan pilihan menarik bagi masyarakat kelas bawah di Amerika
Serikat (AS), karena membuat mereka memiliki kesempatan mempunyai rumah
sendiri. Saking banyak peminatnya, surat utang KPR bernama Subprime ini
pun diperdagangkan di pasar modal dengan berbagai inovasi turunannya.
Hampir
semua bank-bank besar di AS dan Eropa menanamkan investasi pada produk
ini. Nilai produk Subprime ini tak tanggung-tanggung mencapai US$ 1,5
triliun.
Namun tanpa disangka, begitu setahun pertama berlalu,
kejutan datang. Nasabah-nasabah Subprime rupanya banyak yang tidak mampu
mencicil pokok berikut bunga yang sudah mulai dikenakan setelah
setahun. Alhasil, bank-bank besar di AS dan Eropa dihantui gagal bayar
yang tak kepalang tanggung.
Tak cuma AS dan Eropa, dampaknya
terasa hampir ke seluruh perekonomian dan pasar modal dunia, termasuk
Indonesia. Sebanyak 123 bank di AS pun akhirnya mendaftarkan
kebangkrutan. Indeks-indeks bursa saham di seluruh dunia pun mengalami
koreksi tajam di atas 50% hanya dalam setahun.
Untungnya, tahun
2009 sentimen positif dan semangat optimisme berhasil mengangkat kembali
indeks-indeks bursa saham global dari kejatuhan. Dan tahun 2010, dengan
semangat yang sama, diharapkan akan menjadi tahun pemulihan.
Sayangnya,
jalan pemulihan dan penyehatan kelihatannya tidak akan berlalu dengan
mudah dan mulus. Menurut VP Research & Analys PT Valbury Asia
Securities Nico Omer Jonckheere, dunia masih harus melalui krisis global
tahap dua.
"Resesi mungkin telah berakhir, tetapi depresi baru
mulai. Krisis yang sesungguhnya masih berada di depan kita," ujarnya
dalam bincang-bincang dengan detikFinance beberapa
waktu lalu.
Menurutnya, kebanyakan orang terlalu senang dengan
euforia pemulihan di 2009, sehingga luput melihat tanda-tanda krisis
lanjutan. Nico menjelaskan, Subprime Mortgage mungkin telah berlalu.
Namun ia menegaskan, Subprime Mortgage bukan satu-satunya produk KPR
berisiko tinggi di AS.
Produk yang dimaksud Nico adalah produk
KPR bernama Alt-A dan Option ARM. Dua produk ini kerap dikenal dengan
pinjaman Ninja (No Income, No Job and Asset) yang artinya KPR bagi
masyarakat yang tidak memiliki pendapatan, pekerjaan dan agunan.
Perbedaannya
dengan Subprime adalah Alt-A dan Option ARM memberikan keleluasaan pada
nasabahnya dalam membayar cicilan selama 5 tahun pertama. Setelah 5
tahun akan dikenakan penyesuaian bunga secara berkala.
"Setelah 5
tahun, rata-rata kenaikan suku bunga mencapai 80%," ujarnya.
Menurutnya,
produk ini juga merupakan bom waktu yang malah dinilainya bisa
berdampak lebih besar dari Subprime. Jika nilai Subprime hanya sebesar
US$ 1,5 triliun, nilai Alt-A dan Option ARM masing-masing mencapai US$
2,5 triliun dan US$ 500 miliar. Total nilai dua produk ini mencapai US$ 3
triliun.
"Jadi pasar properti yang sekarang terlihat stabil,
tinggal menunggu waktu terjadi penyesuaian bunga KPR yang akan dimulai
tahun ini (2010-2011)," ujarnya.
Jika Subprime yang bernilai US$
1,5 triliun saja sudah membuat dunia amburadul, bisa dibayangkan apa
yang akan terjadi jika ternyata nasabah produk Alt-A dan Option ARM juga
tidak bisa mencicil bunganya setelah terjadi penyesuaian bunga yang
akan terjadi pertengahan tahun 2010.
Selain itu, Nico juga
melihat kredit properti komersial sudah menunjukkan tanda-tanda ambruk.
Sebagai catatan, nilai kredit real estate komersial di AS mencapai US$
3,5 triliun.
"Harga properti komersial turun lebih dari 34%
sepanjang 2009. Nasabah yang gagal membayar cicilannya meningkat dari 1%
menjadi 9%. Nilai gagal bayar meningkat 423% menjadi US$ 52,7 miliar
dari tahun 2008 sebesar US$ 12,5 miliar," papar Nico.
Volume
transaksi properti komersial, lanjut Nico, mengalami penurunan tajam
dari sebesar US$ 133,2 miliar di 2007 menjadi US$ 4,8 miliar di triwulan
I-2009.
"Sekitar 90 ribu properti komersial di AS saat ini
tidak dihuni, kosong," ungkap Nico.
Selain itu, tambah Nico,
lebih dari 2.600 bank di AS memiliki portofolio pinjaman properti
komersial di atas 300% dari batasan risiko yang ditetapkan (risk based
capital).
"Oleh karena itu, ratusan bank kecil dan menengah di AS
yang telah memberikan pinjaman untuk properti komersial harus
mempersiapkan diri untuk menghadapi kerugian besar yang kemungkinan
menggenangi sumber daya mereka," tuturnya.
Nico juga mengatakan
kalau sepanjang tahun 2009, bank-bank di seluruh dunia telah melakukan
pemutihan utang senilai US$ 1 triliun lantaran meningkatnya gagal bayar.
Ia memperkirakan, pemutihan utang yang akan dilakukan bank-bank di
dunia selama tahun 2010 akan mencapai US$ 1,5 triliun.
"Pada
pertengahan 2010, kerugian bank-bank di AS akan melebihi depresi besar
1929," ujarnya.
Pasar pekerjaan di AS juga dinilai Nico
berpotensi meningkat tajam hingga ke level 13%. Menurutnya, saat ini
kondisi masyarakat AS sangat buruk.
"1 dari 9 orang AS atau
sekitar 39 juta orang, hidupnya bergantung pada Food Stamp (kupon
makanan) yang disediakan pemerintah federal," ujarnya.
Kalau
sudah begini, imbuhnya, kondisi perekonomian dipastikan akan mendek.
Tanpa pekerjaan baru maka tidak ada pendapatan. Tanpa pendapatan, tidak
ada pembelian barang dan jasa. Tanpa pembelian, laba perusahaan tidak
akan meningkat. Dan akhirnya tidak ada penciptaan lapangan kerja baru.
Peliknya
kondisi ekonomi global saat ini, menurut Nico disebabkan karena sistem
perekonomian telah mendorong utang terlalu besar, sehingga terjebak pada
kondisi kelebihan utang.
Berdasarkan data IMF sebagaimana
diungkapkan Nico, utang negara-negara yang tergabung dalam forum G20
diperkirakan bakal meningkat rata-ratanya ke level 118,4% dari total
nilai PDB negara-negara anggotanya di 2014.
"Masalah utama
perekonomian dunia kini bukan kekurangan uang, tapi kelebihan utang.
Masalah utama ekonomi AS adalah pasar properti yang belum pulih, utang
pemerintah yang melonjak, pengangguran tinggi, kredit yang tidak
mengalir," jelasnya.
Nico juga meramalkan akan munculnya
indikator-indikator ekonomi mengecewakan dari negara-negara maju.
Kemudian akan bermunculan laporan peningkatan laba bersih perusahaan
yang tidak didukung oleh peningkatan penjualan.
Itu berarti
peningkatan laba lebih didorong oleh efisiensi bukan oleh peningkatan
permintaan di pasar. Daya beli belum meningkat. Selain itu, price to
earning ratio (PER) saham-saham di AS telah mencapai 26 kali, level yang
dinilai Nico terlampau tinggi.
Atas sejumlah analisisnya
tersebut, ia mengimbau pelaku pasar lebih waspada dalam melakukan
langkah investasi. Sebab, jika depresi benar terjadi, indeks-indeks
bursa di seluruh dunia bakal kembali berjatuhan.
"Dow Jones akan
menembus level terendah pada krisis lalu di level 6.469,95. Bisa jatuh
dalam kisaran 3.800-5.000. IHSG bisa kembali jatuh ke bawah 2.000 bahkan
di bawah 1.000," ujarnya.
Kendati demikian, Nico menyarankan
pelaku pasar melakukan penjualan atas setidaknya 50% dari portofolio
saham menjadi dana tunai. Sebab dana tunai diperlukan untuk melakukan
pembelian ketika harga-harga saham sedang ambruk.
"Selain
mengamankan dana, jika market jatuh, bisa melakukan pembelian ketika
harga murah. Anda memang tidak memperoleh potensi keuntungan yang
maksimal, tetapi anda juga tidak akan merasa tersakiti," ujarnya.
"Dan,
tetap selalu ingat bahwa setiap krisis atau bahaya pada kenyataan
menawarkan banyak peluang. Sekarang valuasi saham secara internasional
masih mahal, tetapi setelah crash berikutnya semua saham kemungkinan
besar akan dapat dibeli pada harga yang sungguh menggiurkan," imbuh
Nico.
(dro/qom)
Visitors :17698 Org
Hits : 63266 hits
Month : 410 Users